• Home
  • Unik
  • Demi Kaya Raya, Pria Ini Rela Jadi Budak Nafsu Siluman Ular dan Menumbalkan 8 Anaknya

Demi Kaya Raya, Pria Ini Rela Jadi Budak Nafsu Siluman Ular dan Menumbalkan 8 Anaknya

Minggu, 15 Oktober 2017 18:58:00
BAGIKAN:
ilustrasi f riau24

BERKABAR.COM - Banyak orang yang menempuh jalan sesat bersekutu dengan golongan setan laknatullah agar dapat menjadi kaya.

Padahal, meskipun kekayaan yang diimpikan berhasil diraih, namun bukan kebahagiaan yang diperoleh, melainkan penderitaan

bathin yang sangat berat.  

Kisah inilah yang  dialami seorang warga di kawasan Bandung Selatan. Demi harta ia nekat terliba perjanjian gaib dengan

siluman ular. Selain jadi pemuas nafsu anak buah iblis itu, ia juga mesti menumbalkan orang-orang yang disayanginya.

Untunglah ia dapat hidayah dari Allah dan dapat terlepas dari jeratan siluman ular itu.

Kehidupan pria bernama Karta itu sepintas memang sangat senang. Betapa tidak, ia punyarumah mentereng, penggilingan gabah,

toko kelontong plus kendaraan roda empat. Padahal, dulunya Karta hanyalah sosok yang dikenal sebagai penjual arang keliling.

Hampir tiap hari dia berkeliling kampung dengan arang arang yang dipikulnya.

Meski sudah jadi jutawan. Namun, ada sesuatu yang janggal dalam kehidupan kesehariannya. Karta yang hidup berkecukupan ini

sama sekali tak memiliki anak.

Bukan berarti Karta atau isterinya mandul. Anak lelakinya yang semata wayang telah mati mendadak dalam usia remaja, 15 tahun

silam. Sedangkan 7 anak dari ketiga bini mudanya pun meninggal tatkala masih balita.

Kini, Karta yang telah berusia kepala 5 hidup serumah dengan isteri tuanya bernama Suminah. Sementara itu, ketiga isteri

mudanya, satu persatu, setiap tahun meninggal dunia tanpa suatu sebab sakit lebih dahulu.

Ini semua terjadi karena sesungguhnya Karta dan istrinya terikat perjanjian yang pernah mereka ikrarkan. Ya, keduanya telah

bersekutu dengan siluman ular, lelembut pemberi kekayaan penghuni hutan Tegal Ageung.

Pada waktu-waktu tertentu, Karta harus menyiapkan sesaji dalam kamar khusus. Karta lalu duduk bersila menghadap sesaji sambil

mulutnya berkomat-kamit melafalkan mantera pemanggil iblis.

Sekira pukul 23.30 WIB, tubuh Karta beringsut ke atas pembaringan. Sementara itu, suasana alam di luar rumahnya kian

mencekam. Suara kepak sayap kelelawar bagai membuka tabir akan datangnya makhluk dari alam lain.

Dari arah belakang rumah Karta, sekonyong-konyong menyeruak seekor ular yang lumayan besarnya. Ular ini tubuhnya menggelosor

menuju pintu depan rumah. Anehnya, pintu itu langsung terbuka dan tertutup rapat kembali dengan sendirinya. Lalu ular itu

menerobos masuk ke kamar yang sedang ditempati Karta untuk melakukan ritual.

Karta yang sejak tadi menunggu siluman ular itu langsung menyambut kedatangannya. Siluman ular yang dalam penglihatan Karta

seperti sosok seorang puteri berparas jelita itu langsung mengajak lelaki berkumis ini bersetubuh. Setelah melakukan

perbuatan laknat itulah sang siluman meninggalkan tumpukan uang.

Kalau hanya melakukan persetubuhan saja dengan sang siluman, Karta mungkin tidak terlalu risau. Masalahnya,  setiap tahun

Karta harus menyiapkan tumbal manusia yang merupakan keluarganya. Inilah yang belakangan membuat Karta semakin risau, apalagi

usianya semakin menua. Ia mulai takut mati dan takut akan dosanya.

Untunglah, suatu ketika ia didatangi teman lamanya, Setyadi. Mereka berpisah lebih dari 20 tahun lantaran Setyadi dan

keluarganya ikut trasmigrasi ke Lampung.

Mereka pun bercengkerama tentang pengalamannya selama ini. Namun, ada pengalaman pribadi Karta yang tak dibukakannya,

terutama perihal asal-usul kekayaan yang dimiliki Karta. Tapi, lantaran Setyadi cukup berpengalaman dalam masalah gaib,

akhirnya pembicaraan Setyadi mulai menggelitik tabir rahasia yang ditutup-tutupi Karta.

Karta akhirnya mengakui soal pesugihannya dengan siluman ular. Setyadi pun berjanji menolongnya dengan menghubungi Ustadz

Zaelani. Singkat cerita, Ustadz Zaelani berhasil menaklukkan siluman ular itu dan membebaskan Karta dari perjanjian sesat

yang dilakukannya belasan tahun.

Sejak kejadian itu, Karta dan isterinya menempati rumah sederhana. karena seluruh usaha mereka mendadak bangkrut. Karena

merasa trauma berat terhadap peristiwa itu, menyebabkan Karta menderita penyakit jantung koroner dan Suminah mengalami sakit

tuberkolosis (TBC).

Sangat menyedihkan akhir nasib keduanya. Namun, sebelum ajal merenggut mereka, keduanya kini masih berkesempatan untuk

beribadat kepada Allah SWT. Semoga, Allah mengampuni dosa-dosa yang telah mereka perbuat.***
Sumber: riau24

BAGIKAN:
KOMENTAR